Tampilkan postingan dengan label wisata keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wisata keluarga. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 Maret 2020

Berwisata ke Kota ChiangMai


Wisata ChiangMai

Chiang Mai, di Thailand, merupakan sebuah kota dan juga provinsi. Chiang Mai (dalam bahasa Thai เชียงใหม่), juga seringkali disebut Chiengmai, yaitu kota terbesar ke-2 di Thailand dan terbesar di utara Thailand. Terletak di antara pegunungan yang membentuk daerah utara Thailand, Chiang Mai berjarak sekitar 700 kilometer sebelah barat laut Bangkok. Chiang Mai juga merupakan ibu kota dari provinsi Chiang Mai. Disini kita dapat menikmati Pemandangan sungai Ping di senja hari, Chiang Mai dilintasi oleh Sungai Ping yang merupakan salah satu hulu Sungai Chao Phraya.

Sejarah yang kami dapatkan dari beberapa sumber
Chiang Mai didirikan oleh Raja Mengrai pada tahun 1296, menggantikan Chiang Rai sebagai ibu kota Kerajaan Lannathai. Chiang Mai sendiri berarti kota baru, Raja Mengrai melengkapi ibu kota baru ini dengan tembok kota serta parit yang berbentuk bujur sangkar mengelilingi kota untuk melindunginya dari serangan luar, terutama Kerajaan Burma.

Seiring dengan melemahnya Kerajaan Lannathai, Chiang Mai beberapa waktu berhasil ditaklukkan dan dikuasai oleh Kerajaan Burma ataupun Kerajaan Ayutthaya. Pada tahun 1767, perang antara Burma dan Ayutthaya mencapai puncaknya dan mengakibatkan penduduk Chiang Mai mengungsi meninggalkan kota tersebut. Pada kurun tahun 1776-1791, Chiang Mai ditinggalkan hampir seluruh penduduknya. Lampang menjadi ibu kota sementara dari apa yang menjadi sisa Kerajaan Lannathai masa itu.

Chiang Mai secara resmi menjadi bagian dari Siam setelah direbut Raja Taksin dari Siam yang mengusir kekuatan Burma dari kota tersebut. Chiang Mai tumbuh dan berkembang menjadi pusat kebudayaan, ekonomi dan perdagangan serta mendapatkan posisi fungsionalnya sebagai ibu kota tak resmi di utara Thailand dan menjadi kota terpenting di Thailand setelah Bangkok. Bahasa yang digunakan penduduk Chiang Mai adalah Kham Muang atau disebut Lanna didaerahnya.

Chiang Mai menjadi daerah tujuan wisata karena kaya akan peninggalan situs budayanya. Di antara situs-situs dan atraksi wisata yang terkenal di Chiang Mai adalah:


1.    Wilayah kota kuno Chiang Mai
Wilayah bujursangkar di pusat kota Chiang Mai, dikelilingi oleh parit kota dan puing tembok kota yang masih dapat dilihat di beberapa tempat. Panjang tiap sisinya sekitar 1,5 kilometer. Sejak tahun 1990, pemerintah Chiang Mai melarang pembangunan bangunan pencakar langit dalam jarak 93 meter dihitung dari tembok kota untuk melindungi serta mempertahankan pemandangan kota kuno ini. Di parit kota juga dibuat sistem penyaringan air untuk mempertahankan kebersihan air parit tersebut.

2.    Museum local
·      Pusat Kebudayaan dan Kesenian Kota Chiang Mai adalah berupa museum yang didirikan pada tahun 1924, mempertunjukkan kebudayaan dan cara hidup penduduk Chiang Mai pada masa dahulu sampai sekarang.
·      Museum Suku-suku Pegunungan
·      Museum Nasional Chiang Mai

Di Chiang Mai terdapat beberapa Kuil yaitu Ada sekitar 300 wat atau kuil Buddhis di pelosok Chiang Mai. Wat ini didirikan sejak abad 13 sejak pendirian kota Chiang Mai oleh Raja Mengrai. Yaitu diantaranya: 

1.    Wat Phrathat Doi Suthep

Wat Phrathat Doi Suthep adalah kuil paling terkenal di Chiang Mai, berlokasi di ketinggian di bukit sebelah barat laut kota. Kuil ini berdiri sejak tahun 1383. Lokasi ini ditetapkan para pendirinya dengan menempatkan relik Sang Buddha di punggung seekor gajah dan membiarkannya membawa relik tadi ke dalam hutan. Lokasi ditentukan di tempat di mana sang gajah berputar-putar sebelum berbaring. Lokasi di ketinggian ini juga menyebabkan kota Chiang Mai terlihat jelas pada hari cerah.

2.    Wat Chiang Man

Wat Chiang Man adalah kuil tertua di Chiang Mai merupakan tempat tinggal Raja Mengrai pada masa pembangunan kota Chiang Mai[2]:209. Kuil ini menyimpan 2 gambar Buddha yang sangat penting dan diagungkan, Phra Sila Buddha dan Phra Satang Buddha.

3.    Wat Phra Singh,
Wat Phra Singh, berlokasi di kota kuno, di dalam tembok kota, didirikan sejak tahun 1345. Kuil ini terkenal karena khas akan gaya arsitektur utara Thailand. Di sini tersimpan Phra Singh Buddha, sebuah gambar Buddha yang sangat penting[7].

4.    Wat Chedi Luang

Wat Chedi Luang, didirikan pada tahun 1941 dengan gaya arsitektur Lanna, namun penyelesaiannya memakan waktu bertahun-tahun. Pada tahun 1545, candi ini digoncang gempa dan 30 meter bagian atas candi utama runtuh.

5.    Wat Ched Yot
Wat Ched Yot, didirikan pada tahun 1455 merupakan tempat penyelenggaraan Dewan Buddhis ke-8 Sedunia pada tahun 1977.

6.    Wiang Kum Kam
Wiang Kum Kam, terletak di bagian kota kuno lainnya di sebelah selatan luar kota Chiang Mai. Raja Mengrai tinggal di kota ini 10 tahun sebelum mendirikan Chiang Mai.

7.    Wat U-Mong
Wat U-Mong, wat ini terletak di gua dalam hutan di kaki bukit sebelah barat kota, dekat Universitas Chiang Mai.

8.    Wat Suan Dok
Wat Suan Dok, wat dari abad ke-14 yang berlokasi di tembok barat kota. Kuil ini dibangun oleh Raja Lanna untuk biksu Buddhia dari Sukhothai sebagai tempat untuk ber-vassa di musim penghujan[9].

Selain itu disini kita dapat meenikmati indahnya pasar malamnya, Pasar malam ini merupakan atraksi utama di kehidupan malam di Chiang Mai. Pasar malam ini membentang sepanjang jalan Chang Khlan mulai dari pukul 18.00 sampai 01.00 dini hari tiap malam. Disini juga terkenal dengan pijat tradisional Thai, yaitu terdapat di pelosok Chiang Mai, tersebar ratusan panti pijat tradisional yang menawarkanp pijat tradisional Thai, pijat refleksi kaki dan pijat minyak. Pijat tradisional ini ditawarkan dengan biaya beragam mulai dari 100 Baht sampai 1000 Baht per jam. Pijat Tradisional Thailand yang terkenal akan gerakan terapisnya yang unik dan manfaatnya


Ada beberapa festival nasional yang diselenggarakan di Chiang Mai, di antaranya:

Loi Kratong (Yi Peng), festival yang diselenggarakan di malam bulan purnama bulan November setiap tahunnya. Loi berarti terapung, Kratong adalah kapal kecil berbentuk bulat yang dilipat dari daun pisang, dihiasi dengan bunga, daun-daun dan lilin, yang kemudian akan dilepaskan terapung di parit kota dan sungai. Persembahan ini diperuntukkan kepada Dewi Air. Di samping kapal bulat dari daun pisang ini, juga ada lentera air bergaya Lanna yang diapungkan juga di atas air.

    Songkran, adalah festival yang diselenggarakan pada pertengahan bulan April setiap tahunnya untuk merayakan tahun baru tradisional Thailand. Berbagai kegiatan religius dan aktivitas rekreasi menjadi daya tarik festival ini, salah satunya yang terkenal adalah kegiatan menyiram air di seluruh pelosok kota. Parade mengelilingi kota dan pemilihan Putri Songkran juga menjadi kegiatan dari festival ini.

    Festival Bunga adalah festival 3 hari yang diselenggarakan permulaan Februari setiap tahunnya di Chiang Mai. Festival ini menandai iklim yang mendukung berseminya bunga-bunga tropis.

Kamis, 05 Maret 2020

Berwisata ke Kampong Glam sambil menikmati kuliner urang awak


Sejarah Kampong Glam

Istana Kampong Glam aslinya dibangun oleh Sultan Hussein Shah dari Johor pada tahun 1819 di atas lahan sekitar 23 hektare (57 acre) di Kampong Glam yang telah diberikan kepadanya oleh Perusahaan Hindia Timur Britania. Diyakini merupakan sebuah bangunan kayu di kawasan di sebelah timur Beach Road. Ketika selesai dibangun, istana ini menempati area dua kali ukuran kompleks saat ini, yang berkurang pada tahun 1824 untuk pembangunan North Bridge Road. Sultan tinggal di sana sampai tak lama sebelum kematiannya di Malaka pada tahun 1835.


Bangunan beton yang ada saat ini diperintahkan pembangunannya oleh putra sulung Sultan Hussein, Sultan Ali Iskandar Shah dari Kerajaan Johor-Riau–Lingga pada tahun 1835. Istana baru dibangun di atas lokasi bangunan asli antara tahun 1836 dan 1843. Istana dua lantai yang baru ini diyakini telah dirancang oleh arsitek kolonial George Drumgoole Coleman karena beberapa ciri khas arsitekturnya mirip dengan bangunan lain yang dirancang Coleman, meskipun tidak ada bukti pasti bahwa istana baru ini dirancang olehnya. Desainnya merupakan kombinasi dari gaya Palladian, yang saat itu populer di Inggris, dengan motif tradisional Melayu. Kompleks Istana yang luas dikelilingi oleh tembok pembatas, dan rumah-rumah kecil bergaya kampung dibangun di sekitarnya untuk para kerabat, abdi, dan perajin Sultan.

Setelah istana selesai dibangun pada tahun 1843, Tengku Alam, putra sulung Sultan Ali, tinggal di dalamnya sampai kematiannya pada tahun 1891. Sewa lahan di mana istana berdiri telah dihibahkan oleh Sultan Ali, dan Tengku Alam terus mengumpulkan uang sewa dan menyokong para anggota keluarga ayahnya sesuai dengan adat kebiasaan Melayu. Setelah kematiannya, dia dimakamkan di makam kerajaan di Masjid Sultan yang berdekatan.


Kampong Glam atau nama aslinya "Kampung Gelam" terletak di Singapura, menjadi pemukiman awal masyarakat Bugis dan Jawa dari Indonesia. Kampong Glam mendapat namanya dari Pohon Gelam yang terdapat di seluruh Singapura hingga kini.


Dikampong Glam terdapat beberapa restoran seperti Restoran Mamanda, Tambuah Mas Indonesia dan Hajah Maimunah , restoran ini menjadi pilihan yang mampu memenuhi cita rasa pelanggan, Restoran Tambuah Mas terkenal dengan hidangan istimewa dari masakan khas padang seperti rendang, aneka gulai, kari kepala ikan, dan ikan asam pedas, sedangkan Restoran Hajah Maimunah pula populer dengan masakan rumah seperti siput sedut, ayam kalasan, ikan pari bakar dan urap-urap.


Restoran Mamanda yang pada awalnya dikenal sebagai Gedung Kuning sebenarnya tempat tinggal Bendahara Singapura pada zaman pemerintahan Inggris dikenal sebagai Haji Yusof Tali Pinggang sampai 1950. Hidangan istimewanya seperti nasi tumpang, nasi kuning, nasi rawon dan sayur lodeh.


selain restoran, di kampong Glam terdapat berbagai lokasi yang lebih menarik lagi seperti :

1.    Masjid Sultan

Masjid Sultan di Kampung Glam vSingapura merupakan masjid pertama yang dibangun di republik itu. Hingga kini, masjid bersejarah itu masih menjadi daya tarik utama bagi wisatawan asing yang datang ke Singapura.



Mesjid ini ada di Singapura, orang pertama yang membangun Mesjid Sultan adalah orang Jawa dari Indonesia. Ia datang ke Singapura bertujuan untuk berdagang dengan orang Arab dan Bugis pada tahun 1826 silam. Dari awal berdiri, jemaah di masjid ini pun semakin bertambah dari tahun ke tahun.

Hingga kini masjid sultan Singapura masih berdiri kokoh di tempat dimana dia pertama kali didirikan, menjadi salah satu masjid tetua dan terbesar di Singapura Istana Kampung Glam.

2.    Taman Warisan Melayu


Taman Warisan Melayu merupakan sebuah museum dan pusat kebudayaan Melayu yang ada di Singapura. Tempat ini pertama kali didirikan pada tahun 2004, kemudian direnovasi kembali pada tahun 2011. Taman Warisan Melayu pun dibuka kembali pada tahun 2012 hingga sekarang.

3.    Haji Lane

Tempat ini dikenal sebagai salah satu tempat favorit bagi para muda-mudi di Singapura. Berkunjung ke sini kita bisa menemukan banyak sekali butik, pernak-pernik hingga tempat pembuatan tattoo. Haji Lane juga terkenal sebagai spot yang lagi trendnya untuk berfoto-foto karena ada banyak mural keren yang instagramable di sepanjang dindingnya.


4.    Kampung Glam Café 


Kampung Glam Café makananya halal, dan juga menyajikan menu yang murah. Jika kita biasa begadang pun bisa datang ke sini, karena Kampung Glam Cafe buka hingga pukul 2 pagi. Jenis makanan yang bisa di coba disini adalah makanan melayu sepert mie rebus dan nasi lemak. Seperti pada umumnya, makanan di Singapura memiliki cita rasa yang mirip dengan makanan Indonesia. Kita bias jalan-jalan di sini pada malam hari karena tempat ini selalu ramai oleh pengunjung bahkan hingga dini hari.

5.    Singapura Zam-zam


Tempat ini merupakan sebuah tempat makan yang terkenal di kawasan Kampong Glam. Lokasi dari Singapura Zam-Zam ini pun tidak jauh dari Masjid Sultan. Salah satu menu makanan yang di favoritkan bagi para wisatawan di sini adalah martabak. Martabak yang dijajakan pun beraneka ragam dan isinya mulai dari yang berisi daging sapi, ayam hingga daging rusa.
Untuk mencicipi martabak ini kita harus sediakan uang yang cukup banyak,  karena harganya cukup mahal. Tetapi, meskipuyn mahal rasanya tidak akan kecewa karena martabaknya terkenal sangat enak.

6.    Arab Street


Kalau mau membeli oleh-oleh, pakaian atau makanan khas Arab bisa berkunjung ke Arab Street. Jika berkunjung ke sini kita akan menemukan banyak sekali toko yang menjual barang-barang khas timur tengah seperti kain, baju gamis, karpet, sajadah dan masih banyak lagi yang lainnya. Berbeda dengan tempat lainnya, Arab Street memang dikenal sebagai tempat untuk berbelanja saja.